Tampilkan postingan dengan label West Europe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label West Europe. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2015

Perjalanan ke West Europe Part 4

Hari ke 6

MT. Titlis & Swiss

Hari ini kita akan menuju Engelberg untuk mendaki MT. Titlis sebuah pegunungan yang terkenal dengan salju abadinya.
Selama 4 musim pengunungan tsb diliputi salju, musim panas masih ada salju di sana, yang membedakan hanya tebal tipisnya salju serta suhu udara. Di musim dingin pengunungan tsb jadi ajang turnamen  ice sky internasional.
Banyak film telah dibuat di Engelberg Mt Titlis karena pemandangan di sana memang indah dan keren...

Suhu di Mt Titlis diperkirakan 5 derajat celcius, tidak terlalu dingin, karena saat ini musim panas, mungkin sebanding dengan suhu di Bromo atau Penanjakan. Tapi tetep aja persiapan mesti dilakukan, agar kita betah berlama-lama main salju di Mt Titlis, jaket atau sweater wajib hukumnya bagi yang ga tahan dingin. 
Ali nekat ga bawa jaket karena dia yakin akan bertahan di suhu tsb ...ternyata memang tahan.
Sebagian red wine dituang di termos  yang dibeli di Italy dalam rangka ulang tahun coca cola 125 th di Italy. Untung kita bawa red wine amat sangat nikmat diminum di saat udara dingin.

Mt Titlis berada di ketinggian 3.020 m dari permukaan laut, untuk menuju ke sana kita naik cable car.
Setiap peserta dibagikan tiket cable car Mt Titlis, ga boleh ilang..kalo ilang, beli lagi sendiri harganya kira-kira 41 - 50 euro, aku lupa harga tepatnya berapa.
Pertama kita naik cable car yang berkapasitas 6 orang, kita harus turun di station ke 2 untuk oper ke cable car besar dg kapitas sekitar 60 orang. Kita akan naik ke cable car besar bersama-sama seluruh rombongan, jadi yg udah nyampai duluan tunggu yang lain.
Pemandangan dari atas cable car, wow..indah sekali...
Akhirnya sampailah kita ke MT Titlis... berkumpul dulu menentukan tempat & jam meeting point, sebelum rombongan bubar ada info penting dari tour leader bahwa makanan atau apapun di MT Titlis mahal..karena untuk bawa ke sana sulit..ongkosnya mahal,tapi sup kejunya terkenal enak sekali. iya sudahlah EGP dengan harga tidak  setahun sekali.
Rombongan bubar jalan menuju hamparan salju . Ayo..ayo.... main salju....

Di Mt Titlis  bermacam-macam bangsa  & bahasa ada di sana, orang berbahasa Indo di luar rombongan kitapun banyak, kayaknya ada group dari Indo juga. Orang Indo dimana-mana ada...
Udara sejuk..diiringi angin yang berhembus...sinar matahari memancar terang ...tapi tetap sejuk...
Sekeliling semua salju..salju..kadang ada sebagian karang yang tak tertutup salju karena saat ini musim panas.
Mt Titlis
Pada saat winter... semuanya tertutup salju....dimana-mana putih bersalju...seperti film sinterlas dengan kereta saljunya.  Salju kayak es dipasrah..agak kasar...tidak terlalu lembut.
Terdengar orang-orang berteriak heboh...ada apa di sana..? Ternyata mereka meluncur..diantara salju..
Ikut yuk..koq keliatannya asyik..
Tapi mesti kita naik dulu.. baru bisa meluncur..
Untuk naik koq iya berat ya..., badan udah ndut...setiap menginjak salju menciptakan lubang tapak kaki...angkat kaki, naik lagi..Dengan nafas ngos2an aku melihat sekeliling ... wow... disana ada tali... dekat tali banyak tapak2 kaki.
Aku ajak Aldo mendekati tali titian ke atas .. Ali, Zila & Diandra udah ada di atas.
Aku & Aldo ketinggalan gara2 foto2 & minum red wine yang dibawa Aldo.
Badan Aldo ndut dan besar untuk ukuran anak umur 12 tahun.
Aku suruh dia pegang tali sambil mengikuti jejak2 kaki, kadang licin..dan bikin kepleset..untung Aldo besar & kuat, aku tinggal pegang Aldo sambil mengikuti jejak2 kaki.
Sampai di atas.. foto2.. dan meluncur.. pakaian basah.. gak bawa ganti..EGP, kapan ke sana lagi juga belon tentu...
Yang penting puuuaass.. panas matahari kadang menerpa lagi-lagi EGP.. Menjelajah Mt Titlis ...meluncur... dan bermain salju... .
Wao...perut kita keroncongan dan minta diisi.
Kita tinggalkan salju ... saatnya..makan..
Saat melihat menu... terjadilah ...apa kata tour leader...mahal..
Tapi bagaimana, mosok ga makan, nanti sakit, biayanya tambah mahal...
Menurut Aldo & Diandra ..sup kejunya enak. Pizza rasa pedasnya terasa. Spagetti bolognese.. menurutku biasa, hanya harganya yang luar biasa...mahal.
Pesan secukupnya, kita masih punya bekal biskuit, apel & buah pir..
Dari resto, kila lanjutkan makan bekal kita di tempat lain.
Di luar resto, ada meja, kursi diruang kaca, dari sana kita bisa santai liat pemandangan sambil makan bekal kita.
Setelah bersantai, waktu ke meeting point telah tiba.. Pul kumpul.. naik cable car ..
Liat2 souvenir..cuman liat thoq..karena memang mahal..tapi memang kwalitasnya bagus juga.
Tibalah waktu naik bus lagi...melanjutkan perjalanan.
Wajah2 di bus cerah dan basah oleh sisa2 salju...membawa kenangan indah.

Diberi waktu 15 menit di hotel ganti baju, taruh jaket dll.
Kita akan ke Lion Monument, Old City dan Chapel Bridge..
Lion monument, monumen berbentuk singa membawa tameng & bendera Swiss, melambangkan tentara
Swiss bayaran ( Swiss Guard ) yang tetap setia & rela berkorban.

Old City dan Chapel Bridge...kota kuno Swiss, rumahnya bagus & lucu kayak film2 kuno.
Malam jalan2 sekitar danau Lucerne... suasananya.. oke banget.. serasa semua persoalan dunia menguap entah kemana, yang ada keindahan alam dan udara segar Lucerne.
Tak heran Lucerne termasuk kota ternyaman di dunia untuk dihuni.



Perjalanan ke West Europe Part 3

Innsbruck


Pada hari ke 4 saat di bus, tour leader menawarkan tour tambahan ke Innsbruck - Austria dengan biaya 50 euro per orang, itinerary tour tidak termasuk ke Innsbruck. Rasanya sayang kalo kita tidak pergi ke sana, pemandangan di Innsbruck - Austria indah banget, ke Austria cukup dengan visa Schengen karena Austria sekarang sudah menjadi uni Eropa ( Schengen Countries ) . Kemudian tour leader mengatakan bahwa ini hanya sekedar tawaran, jika seluruh peserta tour setuju, tetapi kalo tidak, kita kembali ke jadwal semula, acara bebas jalan-jalan di Swiss.

Memang sayang sih..kalau kita tidak mampir Austria, aku pernah melihat foto pemandangan  Innsbruck - Austria yang bagus banget dari foto seorang teman.Dengan semangat aku katakan ke rombongan tour yang duduk di sekitarku sepertinya Innsbruck Austria memang layak dikunjungi, kita sudah sampai di sini sepertinya rugi jika tidak mampir ke Austria sekalian.
Akhirnya seluruh peserta sepakat besok kita ke Innsbruck - Austria. Siip...siiip...siip...!!! Sudah lama aku ingin ke Austria, dan rada kecewa karena itinerary tour tidak termasuk Austria.

Hari ke 5
Innsbruck - Austria & Vaduz
Hari ini kita akan ke Innsbruck - Austria, mengunjungi kota tua.
Saat di bus, kita pul kumpul uang..masing2 peserta 50 euro.
Perjalanan melewati highway ( jalan tol ), diawali dengan keramaian kota, makin lama makin sepi tetapi  pemadangan makin indah. Kita melewati bukit-bukit batu karang hitam tegak menjulang dikiri dan kanan jalan. Kemudian berganti dengan kebun anggur dan kebun apel yang hijau berbaris rapi, di tengah-tengah ada rumah, ada jalan, di sela - sela berdiri tegak gereja dengan menara & salib menjulang seolah-olah
tengah menunjukkan arah jalan ke surga. 
Menikmati pemandangan tsb, rasanya 50 euro menjadi harga yang sepadan untuk dibayarkan.
Perjalanan cukup panjang, kita sempat berhenti untuk memberi kesempatan sopir istirahat & ke toilet.
Keluar dari bus langsung disambut udara sejuk dan angin pegunungan, hasrat ke toilet semakin datang. Sebelum menuju ke toilet, jeprat- jepret alam sekitar yang dikelilingi pegunungan. Mau beli kopi snack juga ada..

Keponakananku datang dengan menenteng botol, ternyata red wine yang dibeli dari Itali yang selalu ditenteng kemana-mana takut botolnya pecah ..kesempatan..aku minta red wine sedikit untuk diteguk pelan2. Aku beri contoh ke Aldo & Diandra cara minum red wine yang benar .. digoyang2 di gelas pelan2 baru diteguk sedikit demi sedikit. Mereka percaya & puas atas kuliah singkatku, padahal tujuan utamanya minta red wine untuk mengusir dingin...he..he..he..

Perjalanan dilanjutkan, kali ini pemandangan semakin indah...dikiri kanan jalan, ada lembah & pengunungan dengan warna hijau bergradasi, ada sungai berkelok2, air terjun, jembatan, rumah2 dengan atap merah & warna2 menyolok ditengah-tengah kebun, serta gereja kecil di sela-selanya.. terbayang pemandangan  di film " sound of music ". 
Pantas di Austria banyak komponis musik yang terkenal di dunia, suasana & alam mendukung.
Peserta tour sibuk hunting foto dari kaca jendela bus..aku juga ga mau kalah..atmosfernya begitu.. pasti terpengaruh.

Pemandangan begitu indah, kenapa disisi kiri dan kanan jalan tidak dibuat cekungan jalan, sehingga kendaraan bisa berhenti  sebentar ,dan kita bisa turun untuk foto pemandangan. Aku tidak tau kenapa ?
Foto dari kaca jendela bus hasilnya kurang maksimal, kadang ada bias .
Kalo di Australia, jalan menuju blue mountain, ada beberapa perhentian tempat kita bisa ambil foto dengan sudut-sudut pemandanganyang bagus.

Sampailah kita ke Innsbruck sebuah kota tua..banyak bangunan yang berusia beratus-ratus tahun tapi tetap terawat berbaur dengan aktifitas jaman modern.. ada Mc Donald , ice cream, penjualan souvenir dan resto di sekitar bangunan kuno berdiri dengan anggun.


Ada sebuah kafe ice cream yang antriannya cukup panjang, di tengah-tengah antrian ada orang mengantri bersama anjingnya, dengan sabar & tertib anjingnya ikut antri.
Ada beberapa pantonim dengan berbagai dandanan yang menarik perhatian pengunjung.
Di tepi jalan berderet pelukis caricatur dengan tarif 10 - 15 euro, dalam 3 menit jadi.
Diandra yang hobby menggambar bolak-balik menghilang diantara pelukis2 jalanan tsb.
Kita lagi jalan2 tiba2 Diandra menghilang , sudah dapat dipastikan akan ditemukan diantara pelukis2 jalanan, sedang mengagumi mereka bekerja sambil tersenyum2 kecil.
Kita makan MC Donald dibawah bangunan kuno, ada banyak pilihan disana yang masih bisa kompromi dengan lidah ndesoku.

 Setelah puas di Innsbruck kita naik bis untuk berkunjung ke Vaduz.
Menurut tour leader, Vaduz adalah negara kecil di luar Swiss, dipimpin oleh pangeran memiliki mata uang sendiri.
Kita berhenti di Vaduz, dari tempat kita berdiri di atas bukit berdiri sebuah bangunan sendiri, bangunan itu adalah istana yang dihuni oleh pangeran. Dari atas sang pangeran bisa melihat segala aktifitas penduduknya.
Aku jadi teringat komik HC Andersen, bacaan waktu kecil...he..he..he..
Kotanya kecil, tenang, sejuk cenderung sepi.
Rumah- rumahnya lucu..punya jendela dengan warna merah atau warna2 menyolok lainnya, ada gorden diseparo jendelanya,ada pot bunga warna warni... bener2 negri cinderela..ha..ha..ha..
Seperti biasa kita sibuk berfoto-foto. Aldo & Diandra melalang buana menyusuri semua tempat yang menarik perhatiannya, tiba2 mereka bilang ada mesin untuk tukar koin euro ke mata uang Vaduz, mereka minta coin agar bisa tukar ke coin Vaduz.
Disitu ada pilihan coin yang mana yang diinginkan.. Mereka asyik tertawa-tawa menarik perhatian anak anak lain, jadilah semua peserta tour anak-anak & remaja tukar coin Vaduz.
Kita hanya lewat & mampir jadi tidak bertransaksi, coin Vaduz hanya untuk koleksi.
Perjalanan dilanjutkan..menuju Swiss..ke hotel, makan malam dan beristirahat, agar besok kita punya tenaga untuk ke Engelberg, MT Titlis tempat salju abadi...



Perjalanan West Europe Part 2

Hari ke 4 :
Venice

Pizza di Venice
Seperti biasa mantra pagi kami adalah 6,7,8
Jam 6 morning call, jam 7 breakfast dan jam 8 go..go..

Hari ini kita menuju ke Venice, kota di atas air yang terkenal dengan gondolanya.
Venice adalah sebuah pulau, yang didalamnya banyak kanal-kanal yang menghubungkan
antara satu bangunan dengan bangunan lainnya , gondola merupakan alat transportasi pada jaman dahulu.
Kita dibawa ke pelabuhan untuk menuju pulau Venice dengan kapal boat ukuran sedang.
Sepanjang penjalanan mata kita dimanjakan dengan bangunan2 kuno yang indah ditepi pulau,
peserta tour semua sibuk hunting untuk mengambil foto dengan kamera canggih mereka, dengan
lensa yang panjang ... pokoknya keren deh... Aku ga mau kalah...dengan kamera pocket miniku,
aku juga ikut2an jeprat - jepret.
Hampir semua peserta tour membawa kamera DSLR yang canggih,kecuali anak-anak & remaja .

Angin laut bertiup menerbangkan rambut..kadang ada percikan air tak dihiraukan.. hunting foto jalan
terus...
Terbayang adegan film Tourist saat Angelina Jolie & cowoknya dikejar-kejar lawan.... saat naik kapal boat menuju Venice..

Venice
Sampailah kita di Venice , jika ingin naik gondola, biaya sewa  gondola 150 euro per gondola maksimal diisi 6 orang, tanpa iringan lagu dan musik. Jika  kita ingin perjalanan naik gondola diiringi lagu & musik ada biaya tambahan.
Gondola menyusuri kanal-kanal di antara bangunan - bangunan kuno, membawa alam pikiran kita kembali jauh ke abad yang lampau.

Di Venice  ada St. Mark Square ... lapangan yang dikelilingi bangunan2 kuno, banyak burung merpati ...
Jadi inget film Home Alone, yang tokoh kecilnya bersahabat dengan gelandangan pengurus burung merpati..
Kita bisa berfoto diantara burung2 merpati, untuk memancing spy burung2 mau datang bisa beli makanan
burung di kios2. Isenk2 aku bilang ke keponakanku untuk coba beri rempah2 biskuit monde ke burung2 tsb,
ternyata mereka mau... sukses deh.. hemat gak perlu beli makanan burung, jatah makanan burung bisa buat beli ice cream.
Di kiri kanan square ada kios2 jual souvenir, kafe, kios ice cream.
Ada gereja St. Mark Cathedral yang bagus...kuno dan tetap terpelihara

Angin semilir...sepoi sepoi basa...terik matahari tak terasa.. tapi tau-tau gosong aja..
Kita masuk gang2 diantara bangunan-bangunan tinggi, kios-kios penjual souvenir, makanan ...

Siang makan pizza, ommelet, sandwich, hot dog..makan berlima saling coba ... lidahku merasa
aneh, tapi Aldo & Diandra makan dengan lahapnya...selera anak jaman sekarang.

Di dekat jembatan Bridge of Sights banyak negro berjualan tas-tas bermerk tapi palsu, mereka
sedang dikejar polisi...menyebar berlari masuk ke gang-gang. Setelah polisi pergi mereka muncul
kembali menggelar dagangannya... eee..ternyata sama dengan di Indo.

Di kios-kios banyak juga yang jual lukisan ... bagus2 juga sih ..
Ali tertarik untuk beli, milih-milih dan menawar, sambil minta pertimbangan kita lebih bagus yang
mana..Tiba-tiba dari belakang ada suara " harganya berapa ? "
Ternyata orang Indo dari Jkt, dia menginap di salah satu hotel di Venice, jalan sekeluarga sendiri
ga ikut tour, mau kemana mengikuti suasana hati tdk ada planning pasti, mereka jalan slm 16 hari.
Keliatannya asyiik juga ya..

Venice...pulau tourist, cocok utk santai-santai, suasananya mendukung..di kafe-kafe yang agak
besar ada orang main biola & musik lainnya...
Di depan gereja ada panggung ... orang2 bermain musik & memainkan lagu-lagu lama.
Di lapangan ada pemain pantonim yang kepalanya disembunyikan tapi ada kaca mata & topi
yang mengawang, pura2 sedang baca koran, penonton bisa foto bersama dan merubah posisi
tubuh dia seperti kita mau, lalu kita kasi coin di kotak depan, sukarela.

Indo punya pulau Bali, di Europe ada Venice sama2 tempat yang cocok untuk berlibur...

Lucerne

Setelah puas di Venice kita menuju Lucerne ...ke hotel Radisson Blue di tepi danau Lucerne.
Saat bis lewat danau Lucerne..., kamera mulai beraksi ... jepret sana sini ...kali ini aku menang
posisi, kamera besar2 terantuk kaca jendela bus..baru atur2 posisi bus udah masuk terowongan.
Oya.. perjalanan darat dengan bus di Europe kita sering melewati terowongan.
Kamera kecil lebih lincah..

Sampailah kita ke Lucerne ( Luce ), kita cek ini ke Hotel bentar & taruh barang, 15 menit kemudian berangkat lagi jalan kaki untuk makan malam ke resto dekat hotel yang berada diantara mall2.
Mall di sana beda dengan di Indo, lebih tepat disebut toko2 besar yang berdampingan dan ditengahnya ada square ... tempat orang berkreasi, ada yang nyanyi, music, berdandan macem2 seperti festival seni. Saat itu Sabtu malam Minggu...rame banget, semua anak muda tumplek blek.
Walaupun begitu mereka taat antri.

Pemandangan di danau Lucerne indah... angsa berenang-renang..dan ada taman ditepi danau..
Saat jalan2 kita tidak merasa kalo sudah malam, jam 9 masih ada matahari seperti menjelang sore,
jam 10 matahari baru mulai meredup.

Didekat hotel ada station kereta api, di dalamnya ada supermaket & toko-toko kecil, yang masih
buka sampai malam.
Toko2 besar paling malam jam 7 malam sudah tutup bahkan ada yang jam 5 sudah tutup.
Orang Europe ga hobby shopping kayaknya, mereka lebih senang berekreasi ke tempat2 wisata,
dan berkesenian . Di setiap hotel banyak tergantung berbagai lukisan.

Jumat, 12 Juni 2015

Perjalanan ke West Europe Part 1



Hari 1 :
Berangkat dari Surabaya - Jakarta - Doha - Roma
Di pesawat Qatar Jakarta - Roma, kegiatanku makan, tidur, makan, tidur lagi, sekali-kali ke toilet,
dan nonton film lucu-lucu.

Hari 2 : Roma City Tour
Pagi hari tiba di Leonardo Da Vinci Airport, Roma.
Tiba  Roma  kami ke toilet, ganti kaos, cuci muka dan ambil bagasi.
Bus untuk city tour sudah menunggu di depan bandara, kami segera naik bus untuk menuju Colloseum.


Colloseum, stadion gladiator.
Paket tour tidak termasuk tiket masuk colloseum. Jika kita ingin masuk colloseum dapat membeli tiket masuk seharga 10 euro/ person.
Kami tidak  masuk colloseum, hanya foto-foto di luar colloseum. Di seputar colloseum banyak lubang – lubang jendela besar, kita bisa mengintip isi colloseum dengan leluasa tanpa  beli tiket.
Banyak  orang lalu lalang dengan berpakaian ala gladiator.  Ternyata mereka foto model ala gladiator.
Kalo mau foto bareng  harus bayar, kita  tidak boleh main jeprat jepret aja, harus "deal" dulu  berapa kita harus bayar , kalo tidak mereka akan ribut dan urusannya panjang.
Bentuk colloseum  persis sama dengan yang ada di Wisata Bukit Mas dekat rumahku, tetapi ukurannya jauh lebih besar. Dahulu di sini tempat para gladiator bertarung dengan banteng , mempertaruhkan nyawa  untuk tontonan  dan ajang pertaruhan para petinggi dan orang kaya di Romawi. Begitu banyak nyawa gladiator dan darah mereka tumpah di dalam colloseum ini.
Aku mencoba mengintip tempat pertarungan tsb dan mengarahkan kamera ke dalam untuk memotret, tiba-tiba angin bertiup, aku merinding, bulu kudukku berdiri, akhirnya aku mengurungkan niat untuk motret tempat tsb. Aku tidak tega, dan berdoa : “Semoga arwah para gladiator dapat beristirahat dengan damai”.

Aku mencari model gladiator yang mirip Rusell Crowe bintang film” Gladiator”, sayang sekali aku tidak menemukan. Akhirnya aku batal foto dengan model gladiator, merasa rugi jika membayar tapi modelnya kurang ganteng he..he..he.


St Peter Basilica
Tiba di sana Paus sedang audisi, turis  belum diijinkan masuk gereja.
Kami keliling di seputar pelataran gereja, kemudian melanjutkan city tour  dan makan siang.
Di resto  tempat  makan siang, kita bertemu rombongan dari Indonesia, ternyata mereka rombongan Freddy, tour leaderku  saat dulu aku ke Hollyland
Rombongan mereka juga akan ke St Peter, sambil menunggu Paus selesai audisi mereka makan siang dulu.
Selesai makan siang, kami keliling kota Roma kemudian kembali menuju gereja St. Peter Basilica.

Akhirnya kami tiba kembali di gereja St. Peter . Sudah banyak pengunjung antri ditempat scanning, sebelum masuk area gereja kita melewati pemeriksaan scanning seperti yang ada di bandara. Kemudian tour leader membagikan headphone ke setiap peserta tour . Local guide menjelaskan sejarah gereja dan peta lokasi  yang didengarkan peserta lewat headphone , tidak  perlu dengan suara keras sehingga suasana hening tetap terjaga.
Gereja di Vatican ini benar-benar indah dan “amazing”. Dekorasi atap, dinding dan patung – patungnya begitu indah dan agung. Sebuah mahakarya yang dibuat manusia dengan jiwa totalitas yang luar biasa.
Di dekat gereja ada penjual  souvenir barang rohani, rosario , patung-patung mini dll , harganya cukup “reasonable” tidak terlalu mahal.
Setelah keluar dari gereja, kami berlima sibuk memilih souvenir dan foto - foto, kemudian kita baru sadar sudah terpisah  dari rombongan tour. Kami berbagi tugas mencari arah perginya rombongan kami, tengok kiri dan kanan tidak ada tanda-tanda arah kepergian rombongan tour. Kemudian kami menunggu di tempat meeting point sebelumnya dan segera menghubungi tour leader .


Trevi Fountain
Aku hampir setiap hari aku melewati miniatur  tiruan Trevi Fountain ada di depan colloseum club house di Wisata Bukit Mas Surabaya.
Trevi Fountain asli jauh lebih besar, lebih bagus, patung patungnya indah , sebuah karya nyata orang-orang yang memiliki jiwa seni yang tinggi.
Di dasar kolam Trevi Fountain bertebaran uang-uang koin.
Menurut  mitos, apabila  kita melempar coin ke dalam kolam, suatu saat nanti akan kembali berkunjung ke Roma.
Saat itu musim panas, waktunya orang berlibur, pengunjung berkerumun menutupi  Trevi fountain. Aku berusaha mendekati  Trevi Fountain, mencari cela di antara orang-orang agar dapat mengambil foto Trevi fountain.
Selesai mengambil foto , aku menepi , clingak clinguk , tengok kiri kanan untuk mencari rombonganku. Tak nampak satu orang pun yang aku kenal.
Di sekelilingku orang bule yang hampir semuanya berbadan besar, membuat pandanganku terhalang ke depan.
Wow ...aku terpisah dari rombongan !
Aku berusaha menepi dari keramaian dan berpikir kira-kira kemana rombonganku pergi.
Oya..... tadi tour leader mengatakan di Trevi fountain ice creamnya enak. Pasti mereka ke sana.
Aku menyusuri toko mencari toko ice cream, dugaanku pasti mereka akan mampir di salah satu toko ice cream.
Dari jauh , aku meliat  tour leader lokal sedang celingukan mencari-cari seseorang, pasti dia cari aku. 
Ternyata benar, rombongan tour sedang antri ice cream, sedangkan tour leader berusaha mencari aku.
Ice cream di Trevi fountain memang enak tenan !. Pastikan mencicipi  ice cream jika sedang berkunjung di sana . Rasanya mantap yummy…!!

Dari Trevi fountain kita melanjutkan city tour ke Piazza Venezia, monument Victor Emmanuel II, Roman Forum,dan tempat-tempat bersejarah lainya. Ada banyak cerita tentang tempat-tempat bersejarah di kota Roma.
Mendengar penjelasan tour leader kita merasa berada di sebuah kota dongeng dan legenda.

Hari 3 : Menara Pisa -  Prato

Pagi-pagi  benar, kita berangkat menuju menara Pisa. Perjalanan dari Roma ke Pisa lumayan jauh.
Setiap 2,5 jam, bus berhenti memberi waktu  istirahat sopir.
Peraturan mewajibkan sopir berhenti untuk istirahat , jika tidak mematuhi sopir atau perusahan bus akan kena  sanksi.
Selama sopir istirahat, kita dapat mampir ke toilet, beli snack atau mimunan.
Sebelum masuk toilet mesti  bayar, lumayan mahal jika di kurskan ke rupiah.
Menara Pisa

Menara Pisa dapat dikatakan sebuah produk gagal yang akhirnya menjadi legenda.
Menara Pisa  bukan  sengaja dibuat miring.
Dalam masa pembangunan baru diketahui, ternyata hasilnya miring, tidak sesuai rencana . Pembangunan sempat terhenti karena khawatir berbahaya dan menara akan roboh.
Dengan berbagai pertimbangan masih aman, pembangunan  dilanjutkan kembali, jadilah menara Pisa yang miring dan legendaris.
Cuaca saat itu panas sekali, namun pengunjung seolah tidak perduli dg panasnya matahari. Semua sibuk berfoto dengan gaya seolah-olah sedang mendorong menara Pisa agar tidak jatuh.
Semua bangunan bernuansa putih, memberi kesan antik dan anggun berdiri dengan latar belakang langit biru.