Tampilkan postingan dengan label Lombok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lombok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2015

NAIK KAPAL BUAH DAN SAYUR KE GILI MENO LOMBOK

Gili Meno
Pulau Lombok selain keindahan pantainya , terkenal akan keindahan pulau-pulau kecil  ( gili ) di sekeliling Lombok.
Ada tiga besar gili di Lombok, Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno.
Ketiga pulau ini terletak di barat laut pulau Lombok.
Gili Trawangan dikenal sebagai surganya pesta bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, 
sedangkan Gili Meno menawarkan suasana tenang dan damai serta keindahan bawah laut yang begitu jernih.

Hari ini kita akan menuju ke Gili Meno, setelah kita "breakfast" di hotel, kita segera menuju ke mobil sewaan yang telah menunggu kita di parkiran hotel.
Dari kota Mataram jalan menuju ke arah Gili Meno melewati pantai-pantai yang indah, rasanya tak rela untuk tidak berhenti dan turun untuk berfoto, apalagi banyak mobil dan sepeda motor berhenti dan penumpangnya sibuk selfie.
Ikutan yuk...foto sebentar. Kita berfoto dengan "background" pantai Senggigi yang indah.
Kemudian kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Ditengah perjalanan kita melewati pantai yang cantik.
Serempak kita komentar : " Wow pantai apa itu ..indah sekali ".
Pantai Malimbu jawab pak sopir, apakah mau turun sebentar?.
Kompak kita menjawab, " Iya turun sebentar pak , itu di sisi kiri ada tempat pakir mobil".
Dengan  penuh semangat  segera kita cari posisi yang pas untuk foto,  cari sudut pandang yang pas agar wajah yang difoto tidak terlihat gelap.
Di parkiran banyak pedagang mutiara menawarkan dagangannya, mampir bentar, pilih, tawar dan bungkus mutiaranya.
Ayo..ayo..kita berangkat, nanti ketinggalan kapal ke Gili Meno.
Pantai Malimbu

Mobil melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Bangsal, pelabuhan tempat menyeberang ke Gili Meno.
Di pelabuhan Bangsal mobil harus di parkir di tempat parkir yang disediakan,agak jauh dari tempat keberangkatan kapal.
Ada jasa cidomo menuju tempat keberangkatan kapal dengan tarif Rp. 30.000,- per cidomo.
Sementara Jadi Tukang  Sayur dan Buah

Jadwal keberangkatan kapal ke Gili Meno amat jarang, tidak sesering kapal ke Gili Trawangan atau Gili Air.
Kapal penumpang ke Gili Meno sudah berangkat,  alternatif yang ada sewa speed boat pribadi atau sewa kapal pribadi.
Tiba-tiba ada orang  bertanya :  "Mau ke Gili Meno ? Saya mau kirim sayur dan buah ke Gili Meno , Ikut kami saja, kapal segera berangkat, per orang Rp 50.000,- dari pada kalian  sewa kapal pribadi mahal lho..."
Karena kita khawatir kehabisan waktu, kita langsung setuju yang penting segera berangkat.
Akhirnya kita naik kapal diantara sayur dan buah, saat kapal akan berangkat ada rombongan bule akan ke Gili Meno.
Kesempatan ini tidak disia-siakan tukang kapal , rombongan bule diajak naik ke kapal sayur dan buah, entah ditarik bayaran berapa per orang rombongan bule tsb, aku tidak sempat bertanya.
Muatan kapal benar-benar full secara maksimal tiada lahan tersisa.

Perjalanan ke Gili Meno kira-kira 25 menit dari pelabuhan Bangsal.
Angin bertiup sepoi basa, kadang-kadang ada cipratan air laut, terlihat deretan pegunungan dari kejauhan, air lautnya terlihat bening.
Rombongan bule di ruang gerak yang terbatas menyempatkan diri berfoto, tak mau kalah kita  ikut jeprat - jepret berfoto.
Seorang bule menawarkan untuk membantu kita berfoto, jadilah  kita  berfoto di kapal diantara sayur dan buah.
Berebut Lahan Dengan Buah dan Sayur

Tiba di Gili Meno, kita mengelilingi Gili Meno naik Cidomo, harga sewa cidomo Rp. 200.000,-.
Menurut cerita kusir cidomo, ada badan pengelola cidomo, sebelum beroperasi ada tahap seleksi dan harus membayar biaya trayek.
Ketersediaan cidomo setiap periode dianalisa dan ditinjau kembali apakah sudah sesuai dengan kebutuhan Gili Meno.
Jalan-jalan yang dilalui cidomo kadang berpaving, tak jarang melalui jalan kecil berpasir dan berkelok, kita terguncang-guncang diatas cidomo.
Saat jalan amat berpasir dan menanjak, kita turun sebentar, kudanya kelelahan.
Sebenarnya cidomo hanya boleh diisi 2 orang, tetapi biasanya untuk wisatawan lokal boleh lebih, jadi kita berempat naik satu cidomo.
Tidak banyak wisatawan lokal di Gili Meno, wisatawan manca negara pun tidak sebanyak di Gili Trawangan.
Serasa berada di pulau milik pribadi, masih asri dan jauh dari hiruk pikuk.

Semua kebutuhan yang ada di Gili Meno dipasok dari pulau Lombok, termasuk buah dan sayuran yang tadi bareng kita.
Air bersih dan listrik juga dipasok dari pulau Lombok.
Listrik dialirkan melalui kabel bawah laut.
Beningnya Air Laut Gili Meno

Cidomo berhenti di taman burung alias Gili Meno Bird Park, kita tidak masuk hanya berfoto dihalamannya.
Perjalanan dilanjutkan ke danau, kemudian ke tempat penakaran penyu .
Konon kabarnya tempat penangkaran penyu dibuat atas kontribusi salah satu LSM Italia,
tetapi  tempat penangkaran ini terasa kurang diperhatikan dibandingkan yang ada di Gili Trawangan.
Jika kita mau , bisa snorkeling atau diving menjelajah ke pantai bagian barat pulau, airnya bening
ada  banyak spot menyelam yang indah seperti Meno Wall dan Turtle Point.
Jika beruntung, kita bisa melihat penyu-penyu yang tengah berenang di Turtle Point.
Di Bawah Pohon Bakau Gili Meno

Kali ini kita tidak snorkeling, kita duduk ditepi pantai diatas gelaran sarung pantai, sambil makan bekal yang kita bawa, memandang kapal-kapal di laut dan beningnya air laut.
Setelah puas berfoto, kita menuju gasebo dan pesan juice nanas tanpa gula.
Segernya..juice nanas...walaupun tanpa gula, rasanya manis dan segar.

Setelah puas berkelana di Gili Meno, kita pesan tiket kapal untuk kembali ke Pelabuhan Bangsal.
Di sana pak sopir dan mobil sewaan sudah menunggu.
Kita melanjutkan perjalanan ke Batu Bolong Senggigi.
Dari Batu Bolong, kita menikmati  sunset di sebuah resto sea food di tepi pantai sambil menunggu pesanan makan malam yang sedang dimasak.
Kita makan dengan nikmat, sambil diiringi musik alam, suara ombak yang sesekali berdebur memecahkan keheningan senja.
Sunset di Lombok

Selasa, 14 Juli 2015

NYARIS TERDAMPAR DI BATU PAYUNG - LOMBOK

Batu Payung
Di bandara Lombok, mobil yang kita sewa sudah menunggu.
Rencana hari ini wisata pantai, melihat pantai-pantai yang mengelilingi pulau Lombok.
Keindahan pantai di pulau Lombok tidak kalah dengan kecantikan dan keindahan pantai di Bali, bahkan banyak pantai di Lombok lebih alami dan asri karena belum banyak wisatawan yang datang ke sana.

Pantai Kuta Lombok

Pantai pertama yang kita kunjungi pantai Kuta Lombok, wisatawan tidak seramai pantai Kuta yang ada di Bali.
Pasir pantainya bersih dengan latar belakang perbukitan dan air laut biru bergradasi.
Tidak banyak pengunjung, hanya ada beberapa bule berjalan-jalan dan berteduh di bawah payung-payung jerami yang ada di sepanjang pantai.
Beberapa pedagang menawarkan kain khas lombok dan kaos oblong bersablon Lombok dan tempat wisata di Lombok.
Kita berjalan sebentar menyusuri pantai Kuta dan berfoto - foto.
Hari ini udara cerah, terik matahari menyinari air laut membentuk pendar-pendar cahaya, sekali-kali terdengar suara deburan ombak.
Angin bertiup sepoi membuat terik matahari berkurang panasnya.
Setelah puas memandangi pantai Kuta, kita lanjutkan perjalanan ke pantai berikutnya Tanjung Aan.

Pantai Tanjung Aan

Tanjung Aan berpasir putih bagai tepung, disekelilingnya ada bukit-bukit, karang-karang tegak berdiri dengan latar belakang langit biru.
Di sisi lain pantai berpasir bulat-bulat kecil bagaikan mrica.
Anak-anak kecil berlarian menawarkan dagangannya, dengan jurus rayuan dan sedikit memaksa.
Mereka berjualan gelang-gelang dan pasir pantai bak mrica ditempatkan dibotol bekas air mineral.
Ibu-ibu  dan bapak-bapak berjualan sarung, kaos dan ada juga batu akik .
Rupa-rupanya demam batu akik sampai juga ke Lombok.
Imelda beli batu akik Lombok untuk oleh-oleh nanti setiba di Surabaya.
Kita terawang batu akik, kita sinari batu akik apakah tembus pandang atau tidak, ha..ha..ha kita semua berlagak ahli batu akik, persis penjual batu akik di pasar-pasar.
Di tepi pantai ada penjual kelapa muda,  kita minum air kelapa muda sambil memandangi indahnya pantai dan debur ombak.
Lupa sudah segala keruwetan persoalan dunia, digantikan pemandangan indah dan hembusan angin yang sekali-kali bertiup.
Yang ada dalam pikiran kita, Indonesia memang indah.
Saat kita berfoto-foto di antara batu-batu karang di pantai Tanjung Aan, ada tukang perahu yang menghampiri kita, menawarkan jasa perahu menyeberang ke Batu Payung sambil menunjukkan foto-foto Batu Payung.
Awalnya kita tidak tertarik. Masih banyak pantai lain yang akan kita kunjungi, khawatir waktu kita habis hanya di satu tempat.
Aku tanya berapa waktu yang dibutuhkan ke sana dan berapa biayanya ?
Sang tukang perahu mengatakan ke Batu Payung perjalanan hanya 10 - 15 menit, biaya sewa PP Rp. 350.000,-, pemandangannya bagus, rugi lho kalo ke Tanjung Aan tidak sekalian ke sana, promosi sang tukang perahu.
Isenk-isenk aku katakan kalo waktu yang diperlukan ke sana cuman sebentar, kenapa sewa perahunya mahal ?
Sang tukang perahu mengatakan bahwa perahunya bukan milik sendiri, dia hanya jalankan saja dan perahu tersebut memakai mesin yang membutuhkan bahan bakar. Tidak dibatasi waktu , perahu akan tunggu sampai kita puas di Batu Payung, waktunya terserah kita.
Kita semua berunding, hasil perundingannya : coba aja isenk ditawar sewa perahunya.
Diana yang paling takut naik perahu langsung menetapkan harga tawar Rp. 150.000,- PP kalau boleh.
Dalam hati kita, mengatakan sepertinya sang tukang perahu tidak mau, terlalu murah.
Kita kembali jalan-jalan di Tanjung Aan dan juga belanja sarung dan kaos tanpa memperdulikan tukang perahu.
Sang tukang perahu kembali datang, Rp 250.000,- saja, kami turun harga karena seharian belum ada yang sewa, pengunjung agak sepi, kata tukang perahu.
Kita semua sibuk belanja, tidak menghiraukan tawaran tukang perahu.
Tiba-tiba Diana datang bersama tukang perahu, mengatakan tukang perahu setuju harga sewa perahu Rp. 150.000,-
Oke..kalo begitu kita berangkat, bagaimana kamu Din, berani ikut ?
Iya ikutlah, jawab Diana. Daripada aku tunggu sendirian di pantai.
Oke deal...kita berangkat...ayo...ayo...cepat ..hurry up, belanjanya nanti aja.
Perahu Diguncang Ombak

Batu Payung

Batu payung terletak di kecamatan Pijut kabupaten Lombok Tengah bagian Selatan.
Di tempat ini pada tahun 2013 pernah dijadikan lokasi pembuatan iklan rokok Dunhill.
Pantas..serasa kita pernah lihat (deja vu).
Dari jauh batu payung mirip bentuk payung yang masih tertutup dan dari sisi lain kelihatan seperti kepala ular kobra.

Aku berjalan menuju ke perahu mengikuti tukang perahu dan anak-anak kecil yang membantu tukang perahu.
Fintje, Imelda dan Diana melepas sepatu dan berjalan menuju perahu dengan telanjang kaki.
Tadi dari Surabaya mereka memakai sepatu, belum sempat ganti sandal, sedangkan aku dari awal memakai sandal.

Ayo...siap..berangkat. Setelah kita semua masuk perahu, tali perahu dilepas.
Wao...airnya bening sekali, sampai dasar lautnya kelihatan, ada pulau-pulau kecil dan pulau-pulau yang terbentuk dari batu karang disepanjang perjalanan, sekali-kali ada burung yang berterbangan. Alamnya masih asri, udaranya bersih dan tidak lengket di kulit.
Menurut Fintje mirip sebagian Raja Ampat .
Saat itu laut masih tenang, kita sibuk foto sana sini sambil menikmati pemandangan alam.
Tukang perahu berkata , itu batu payung sudah kelihatan !.
Tiba-tiba ombak besar datang, mengombang-ambingkan perahu.
Mesin perahu dimatikan khawatir rusak, setelah tenang akan dihidupkan kembali.
Semakin dekat ke tujuan, ombak sering datang, berhenti sebentar, gulungan ombak besar datang kembali.
Kita semua terombang-ambing ombak di dalam perahu.
Diana sudah pucat pasi.
Imelda sedang menerima panggilan telephone, tidak menyadari kedatangan ombak, asyik bertelephone ria.
Kemudian Imelda jatuh gedubrak.... dari tempat duduk jatuh terduduk tengah perahu .
Tukang perahu dan krucil-krucil berusaha menepikan perahu, tetapi berulang kali perahu dihantam ombak dan kembali ke tengah.
Karena berkali-kali perahu dihantam ombak, akhirnya perahu bocor.
Sambil berusaha menepikan perahu, tukang perahu membuang air laut yang masuk ke perahu.
Belum habis air yang ditimba dari perahu, ombak kembali datang.
Akhirnya tukang perahu dan krucil-krucil yang membantu tukang perahu mengatakan kita semua harus turun.
Air laut tidak dalam, kita tidak bisa menunggu perahu menepi dengan sempurna.
Krucil-krucil mengamati datangnya ombak, ketika ombak reda, memberi aba-aba untuk turun.
Fintje turun yang pertama.
Diana masih bersikukuh tidak mau turun...takut....
Imelda terhalang Diana, sibuk untuk berdiri dari tempatnya jatuh terduduk di tengah perahu.
Aku mengatakan ke Diana, aku akan turun, Diana harus turun, bahaya jika sampai perahu pecah dan masih berada di dalam perahu.
Saat ombak agak reda aku turun, tasku aku tinggal karena berat.
Setelah aku berhasil turun, aku minta krucil ambil tas ku dan membantu Diana & Imelda yang masih di perahu.
Di tepi banyak karang-karang...untung aku bawa sandal.
Akhirnya kita semua bisa turun dari perahu ditemani sebagian krucil perahu.
Tukang perahu dan sebagian krucil kembali ketempat asal, menurut krucil akan jemput kembali.
Krucil yang tertinggal mengatakan karena perahu bocor, mereka ke bengkel dekat pantai untuk tambal perahu.
Setelah semua berhasil mendarat, kecemasan kita hilang tergantikan dengan keindahan batu-batu yang tegak berdiri dengan latar belakang langit biru dan deburan ombak.
Saatnya sesi foto narsis....Harus foto, kita sudah berjuang untuk mencapai Batu Payung.
Narsis di Batu Payung
Tiba-tiba, krucil perahu di belakangku mengatakan...bu dibelakang celananya sobek, pahanya kelihatan..
apakah tidak apa-apa dilihat orang ?.
Waduh..krucil ini, cara ngomongnya diplomatis banget..ha..ha..ha..
Saat itu dari balik bukit karang ada beberapa orang lewat setelah mereka berfoto-foto.
Waduh...aku ga terasa kalo celanaku sobek, mungkin sobek saat turun dari perahu.
Untung aku pakai jaket, jaket aku lepas dan kulilitkan dipinggang untuk menutupi celanaku yang sobek.

Setelah puas mengexplore batu payung, kita beristirahat menunggu perahu menjemput kita.
Tak nampak satu perahu pun lewat. Ombak masih datang bergulung karena tiupan angin masih kencang.
Penjual kelapa muda mengatakan, saat ombak besar tidak ada perahu yang berani lewat...
Lho...jadi..kita terdampar di Batu Payung ?
Sampai kapan ?
Sampai angin reda, mungkin menjelang senja..
Waduh kita kembali panic.com.
Kemudian krucil perahu yang tertinggal mengatakan semua perahu tidak berani menjemput di sini saat ombak besar.
Kalo tidak mau menunggu sore, kita harus berjalan ke balik bukit, di sana masih ada perahu yang berani lewat.
Penjual kelapa muda, orang setempat & krucil mengatakan akan menunjukkan jalan dan membantu kita menuju perahu dibalik bukit.
Hah... kita harus naik dan turun bukit ?. Tak terbayangkan !
Itu satu-satunya cara, jalannya tidak sulit dan tidak jauh, hanya naik dan turun sedikit. Mereka akan bantu...
Wadew...sedikit bagi kalian..bagi kita..turun dibukit yang kadang berpasir dan diantara batu karang....wao..
Pelan-pelan..pasti bisa bu, hibur mereka...
Tidak ada jalan lain kalo kita tidak mau terdampar di sini sampai sore nanti.
Fintje jalan dan sampai di bawah bukit duluan...menyemangati kita agar kita ikut turun.
Diana dan Imelda berjalan dengan kaki kesakitan karena kakinya menginjak karang-karang tajam.
Aku bingung antara pakai sandal atau tidak, pakai sandal takut sandal terpleset, gak pakai sandal telapak kaki sakit, akhirnya aku putuskan memakai sandal dengan jari kaki mencengkeram jepitan sandal.
Akhirnya sampailah di bawah bukit dengan bantuan penjual kelapa muda dan krucil.
Di bawah bukit seberang, panas terik matahari menyambut kita..
Imelda cemas mendapati perahu yang akan menjemput kita belum ada.
Krucil mengatakan perahu agak terlambat karena harus ke bengkel.
Ada perahu orang lain datang...kita mau naik perahu tersebut karena perahu yang kita sewa tak kunjung tiba.
Kita sudah naik perahu tsb, kemudian dari jauh, kita lihat perahu sudah datang.
Kita kembali turun untuk berpindah ke perahu yang kita sewa.
Ha....ha...ha... sampai di pantai kita tertawa lepas...
Di pantai ada orang bertanya, darimana ? Dari Batu Payung jawab kita .
Mereka juga ingin ke Batu Payung, tapi batal berangkat karena perahu tidak berani berangkat ombaknya terlalu besar.
Kita hanya jawab dengan senyuman sejuta arti, sambil berjalan menuju mobil.
Menyeberang Bukit di sisi Batu Payung

Di mobil kita tertawa... menertawakan kekonyolan kita dan kepanikan2 yang baru saja berlalu.
Baru terasa...perut lapar...tadi tidak merasa lapar karena tegang.
Saatnya makan siang...kita cari makan siang di depot seadanya.
Aku ganti celana yang sobek dengan celana yang utuh.
Baru tahu...ternyata celanaku sobeknya panjang, kira-kira 25 centimeter.
Paha dan tangan Imelda memar karena jatuh terduduk ditengah perahu saat diterjang ombak.
Apakah kita semua menyesal ke Batu Payung ?
Tentu tidaak...! Ini menjadi pengalaman kita semua..
Jika ada teman teman  yang bertanya tempat-tempat yang rekomen untuk dikunjungi apabila ke Lombok, nomor satu akan kita katakan Batu Payung !!
Betul-betul luar biasa indah view nya.
Cuman mesti hati-hati, cari waktu yang tepat untuk menyebrang.



Pantai Pink

Pantai Pink adalah nama lain dari pantai Tangsi, berada di desa Sekaroh kecamatan Jerowaru, Lombok Timur.
Perjalanan ke pantai Pink melalui jalan-jalan makadam dan berkelok-kelok.
Kita lewati pantai Beloam yang tertutup pohon-pohon.
Pantai Beloam telah menjadi pantai pribadi resort-resort.
Kita tidak bisa masuk ke sana jika tidak menginap di resort tsb.
Pantai Pink, foto-fotonya indah di internet, saat kita kesana tidak seindah fotonya.
Hari menjelang sore air laut sedang surut, pasirnya memang berwarna agak pink.
Entah kita telah lelah atau ekspektasi kita terlalu tinggi terhadap pantai Pink, tetapi bagi kita view pantai Pink tak sebanding dengan perjalanan panjang jalan makadam yang kita tempuh.
Setelah foto-foto sebentar kita kembali ke hotel di pantai Senggigi.
Sebelum ke hotel, kita makan malam khas lombok : ayam taliwang, plecing kangkung dan lain-lain.

Hari ini kita istirahat dulu, besok kita berpetualang lagi.


Senin, 13 Juli 2015

LOMBOK, CITILINK: KEJARLAH DAKU , KAU KUTINGGAL

Gili Meno
Selalu ada cerita disaat kita traveling.
Cerita itu tidak selalu indah, kadang menegangkan, mengharukan dan terkadang menyebalkan.
Apapun ceritanya akan menjadi kenangan dikelak kemudian hari.

Kami berempat traveling ke Lombok berangkat hari Sabtu ,tanggal 4 Juli 2015, dengan pesawat
Citilink QG 664 jam 05.35 WIB dari Surabaya.
Segala akomodasi sudah dipesan dan sebagian sudah dibayar sebelum kita berangkat.
Hari Jum'at kita sudah pesan taxi untuk ke bandara Juanda .
Sabtu jam 04.00 WIB taxi akan siap di depan lobby apartemen.
Kita semua menginap di apartemen yang sama, supaya praktis.
Everything it's okay.

Sabtu subuh sebelum jam 04.00, kita semua bangun bersiap-siap.
Yang belum bangun dibangunkan, aku termasuk yang belum bangun, jam 03.50 WIB aku dibangunkan,
aku langsung gosok gigi, mandi, langsung angkat koper, dengan kondisi masih setengah jiwa (masih mengantuk).
Tadi malam kita semua tidur agak larut malam, membereskan semua yang harus dibereskan sebelum berlibur.
Tiba di bandara Juanda kita segera antri masukkan barang ke bagasi citilink.
Saat antri bagasi kita ketemu teman yang akan ke Jakarta.
Setelah say good bye, kita rencana menuju ke gate masing-masing.

Saat menuju gate,  jam 05.05 kita melewati lounge.
Tadinya aku berpikir, apakah masih ada waktu ya mampir ke lounge ?
Tetapi kemudian pikiran lain muncul, kita belum makan dan saat ini bulan puasa kemungkinan agak repot
cari makan setiba di Lombok nanti.
Nanti kalo pas pesawat akan berangkat pasti akan diumumkan.
Dengan semangat kita masuk lounge.
Jam 05.25 kita baru sadar sudah terlalu lama di lounge.
Kita keluar lounge untuk menuju ke gate.
Dipintu lounge terdengar panggilan untuk penumpang citilink tujuan Lombok..
Temanku yang sedang menunggu di ruang tunggu untuk penerbangan ke Jakarta, mendengar namaku dipanggil ikut berlari keluar gate memanggil-mangil aku.
Kita semua menuju ke gate.
Di gate ada petugas yang pro dan kontra.
Petugas minta kita cepat-cepat masuk, kita akan masuk ditahan oleh petugas lain.
Menurut petugas yang menahan kita, Citilink tujuan Lombok "door close".
Mengapa kita tidak boleh masuk ?
Kita sudah berada disini, tinggal selangkah lagi.
Bagasi kita sudah masuk...
Dari jendela kaca ruang tunggu,  kita lihat Citilink masih parkir, belum take off..
Mengapa Citilink tidak mau menunggu kita sebentar ?
Kita diijinkan masuk gate menemui petugas Citilink, menurut mereka bagasi kita telah diturunkan.
Kita disuruh ke customer service di lantai bawah.
Segera kita ke lantai bawah untuk ambil bagasi.
Hilang sudah harapan kita untuk terbang bersama Citilink.
Waktu sudah habis, door close... Citilink : kejarlah daku kau kutinggal...
Sunset di Lombok

Ternyata tidak hanya kita yang tertinggal pesawat...
Sejak 1 Mei 2015, pengumuman keberangkatan pesawat tidak lagi terdengar demi kenyamanan bagi pengunjung lounge.
Untung cuman ke Lombok...kita masih bisa cari tiket lain ke maskapai lain..

Di Lombok, ternyata masih ada cerita seru yang lain yang telah menanti kita semua..